USTAD MUKLIS, S.Sos.I : BUDI PEKERTI HIASAN DIRI

يا بنيالخلق الحسن زينة الإنسان فى نفسه و بين إخوانه و أهله و عشيرته فكن حسن الخلق يحترمك الناس و يحبوك. …..”

“Wahai anakku, budi pekerti mulia adalah hiasan diri manusia, bagi dirinya, dalam pergaulannya, dan bagi sanak saudara dan handai taulannya. Karena itu, jadilah engkau seseorang yang memiliki akhlak terpuji, kelak semua orang akan memuliakan dan menyayangimu”. (Dalam kitab “Washaya al-Abaa’ li al-Abna’” (Nasehat Ayah Buat Anaknya). Karangan Syekh Muhammad Syakir).

Pendidikan adalah proses membentuk akhlak dan keperibadian anak didik menjadi mulia. Rasulullah SAW diutus ke muka bumi untuk menyempurnakan akhlak manusia, Innama bu’itstu li utammima makaarima al-akhlaq”. Tidaklah aku diutus melainkan untuk menyempurnakan budi pekerti manusia. Itulah misi kenabian Muhammad SAW. Kemudian misi itu dilanjutkan oleh para ulama pewaris nabi sampai kini.

Dalam Buku Ilmu Pengantar Tarbiyah ditulis ada 3 pilar pendidikan, yaitu orang tua, guru, dan masyarakat. Tiga pilar ini jika kuat dan saling menguatkan akan menjadi kekuatan untuk membangun pendidikan efektif dan berguna buat peserta didik (baca : anak) menjadi manusia terdidik yang memiliki karakter dan kepribadian yang baik atau berakhlak karimah. Oleh karena itu, 3 elemen penting dalam pendidikan ini harus berjalan di atas kesamaan visi dan kesatuan derap langkah dalam mendidikan anak. Sebab satu saja salah nilai-nilai pendidikan tidak berguna bahkan akan menjadi racun mematikan masa depan anak.

Tugas yang paling penting dan berat itu adalah bagaimana menyatukan visi dan menyamakan langkah di antara ketiga pilar di atas. Maka komunikasi yang intensif dan kesepahaman antara semuanya adalah hal yang sangat penting. Antara sekolah, madrasah, pesantren, dan lembaga pendidikan lainnya, bersama orang tua serta elemen masyarakat lainnya harus bersatu padu berjuang ke arah itu. Janganlah seperti kata papatah “Sekandang ba lain baun, sa biduak balain arah”, artinya, Sekandang berlainan bau dan seperahu berlainan arah. Ibarat sekelompok orang berburu, masing-masing ingin berburu buruan yang ia mau. Atau seumpama tim bola, menggiring, menendang dan mengumpan bola, tapi tidak ada gawang untuk menjebloskannya. Arah dan tujuan pendidikan kita adalah pembentukan akhlak mulia.

Nilai akademik, prestasi angka-angka dalam rapor atau ijazah di akhir masa pendidikan serta pengakuan dalam kertas-kertas adalah beberapa hal penting. Namun itu semua akan menjadi berguna bersamaan dengan nilai-nilai akhlak mulia yang tertanam pada diri anak. Apa gunanya ilmu pengetahuan jika tidak dibarengi dengan kemuliaan budi pekerti. Ilmu akan menjadi bumerang musuh yang membunuh buat seseorang yang berpengetahuan tinggi tapi tidak menghiasi dirinya dengan budi pekerti. Mari kita resapi lagi petuah penulis kitab di atas. “Yaa bunayya..Idza lam tuzayyin ‘ilmaka bikarami akhlaqika kana ‘ilmuka adharra ‘alaika min jahlika”. Artinya, “Wahai anakku, jika tidak engkau barengi ilmumu dengan kemuliaan budi baikmu, maka cerdasmu lebih berbahaya daripada bodohmu”. Wallahu a’lam bi al-Shawab.

MUKLIS SYAMSUDDIN. S. Sos.I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*