SEPENGGAL KISAH BOCAH PERANTAU

Oleh : Syahida Mardiyah
Kelas 5 IPS 1

Kapal Pecah! Hancur! Berantakan! Tumpahan kuah mie instan tergeletak dimana-mana. Bersamaan dengan nasi yang sudah membusuk. Belum lagi bau atap seng tanpa loteng yang sudah berkarat. Aroma yang sekali mencium saja sudah membuat terjadinya suatu pertengkaran hebat di dalam perut yang rasanya ingin keluar. Namun, tetap saja harus ditahan karena sangat disayangkan jika makanan di dalam lambung tadi harus dikeluarkan.

Tidak kuat untuk melangkah lebih lanjut, keluar dari kamar ini adalah pilihan cepat dan tepat. Aku menemui ibu kos yang tadi hanya berdiri lima langkah dari pintu kamar. “ Maaf bu, kamar ini masih ada yang menempati ?”

“Sudah tidak ada, Nak. Penyewa sebelumnya sudah pergi, waktu itu Ibu tidak ada di sini. Jadi tidak bisa meminta dia untuk membersihkannya terlebih dahulu. Ibu tidak tahu kenapa bisa sekotor itu.”

“Apa tidak ada kamar yang lain?”

“Untuk harga yang tadi ditawarkan, kamar ini yang paling pas.”

Pernyataan itu hanya bisa ku jawab dengan helaan napas panjang. Apa boleh buat. Inilah ujian pertama bagiku, perantau dari kota kecil di Bukittinggi, Sumatera Barat.

Pagi-pagi buta, aku turun dari bus yang selama tiga hari ditumpangi untuk sampai di kota tujuan, kota yang sangat diharapkan untuk membuka peluang sukses. Aku menyusuri jalanan kota yang sepi dengan satu tujuan: menemukan tempat untuk beristirahat sejenak.

Tampak kehidupan perkotaan di sini yang sangat berbeda dari Bukittinggi. Tidak akan ada perasaan aman ketika berkeliaran di pagi buta seperti ini. Tidak sedikit orang-orang yang berjalan dengan setengah kesadaran karena sudah dipengaruhi oleh alkohol. Ingin rasanya duduk sejenak di halte bus, tapi tak mungkin aman. Banyak sekali laki-laki tua, muda, bahkan anak-anak yang berkumpul di sana. Tak habis pikir kenapa bisa ada anak yang mungkin umurnya berkisar antara 13-15 tahun bisa ikut berkumpul di sana. Puntung rokok tak pernah lepas dari tangan kanan, yang lainnya sibuk mengenggam sebotol minuman haram. Masalah akan timbul kalau saja terlalu lama di halte itu atau bahkan duduk di sana. Melanjutkan perjalanan pilihan yang tepat.

Sudah dua jam menyusuri jalanan. Belum juga ditemukan tempat untuk berlindung. Fajar sadik juga sudah mulai muncul. Akhirnya aku singgah sebentar ke masjid sekaligus melaksanakan sholat fajar dan dilanjutkan sholat subuh berjamaah. Selepas sholat, ku sempatkan mengaji selembar dua lembar, karena rasanya akan ada yang kurang bila tidak membaca Qur’an selepas sholat. Hari semakin pagi, langitpun sudah mulai terang. Aku meminta izin kepada pengurus masjid, untuk menumpang mandi dengan menjelaskan kondisiku. Untungnya, beliau sangat baik sehingga mengizinkanku.

Suara kendaraan semakin membuat kota ini bising. Orang-orang sudah sibuk dengan tujuannya masing-masing, kecuali aku yang belum tahu kemana tujuanku. Aku yang mecoba mempertaruhkan hidup karena percaya dengan sebuah keberuntungan.

Aku mencari sebuah kos-kosan melalui sebuah situs di internet. Harga yang tertera di situs tersebut sangat tidak sesuai dengan isi kantongku. Terus mencari dan mulai terhambat ketika handphone ini melambat karena memang usianya sudah lumayan lama. Akhirnya, kutemukan kos-kosan yang sesuai dengan keuanganku. Letaknya pun tak  begitu jauh dari masjid ini. Aku putuskan untuk berjalan kaki, karena lebih hemat dari pada naik transportasi umum yang bisa saja membuatku tersesat, pikirku.

Kalau saja aku punya uang lebih banyak, pastinya aku tidak akan memaksakan diri untuk nge-kos di tempat yang lumayan tidak layak ini. Meminjam peralatan kebersihan dari ibu kos, aku mulai membersihkan kamar ini. Mengeluarkan semua perabotan yang sudah sangat berdebu, membuang karpet yang saking kotornya tidak bisa untuk dicuci dan dipakai lagi, mengeluarkan ranjang yang ketika diangkat membuat tiga atau empat tikus berlarian. Bintang pengerat yang menjijikkan. Belum lagi ada puluhan kecoak yang berlarian ketika karpetnya digulung.

Mengepel, menyapu, membersihkan dinding, jendela, dan sarang laba-laba menghabiskan waktu seharian. Ranjang yang sudah ku bersihkan, sepertinya masih bisa digunakan. Kemudian aku menatanya di dalam kamar. Kasur pemberian ibu kos yang sudah dijemur dari pagi, sangat mermbantuku menghemat. Menjelang ashar akhirnya kamar ini selesai dibersihkan dan akupun bisa menempatinya. Sangat lelah, tapi hasilnya cukup memuaskan. Akupun membersihkan tubuh dengan mandi.

Keesokan harinya, aku mulai mencari pekerjaan. Pagi-pagi sekali aku sudah rapi, karena aku akan memulainya dari sholat subuh berjamaah. Berdoa kepada Allah agar aku dimudahkan menemukan pekerjaan yang cocok untukku. Sedikit uang aku sisihkan untuk bersedekah, agar langkah kaki ini melanngkah pada tempat yang tepat. Hal tersebut aku pelajari dari ibu yang selalu menyisihkan uangnya untuk bersedakah walaupun uang yang dimiliki hanya mencapai kata cukup untuk memenuhi kebutuhan. Sebelum pergi merantau aku sudah wanti-wanti pada Ibu untuk tidak mengirimkan uang kepadaku. Aku merasa uang pergi yang Ibu beri empat hari yang lalu saat aku berangkat sudah cukup sampai aku menemukan pekerjaan.

Siang semakin terik. Tas yang berisi surat lamaran sudah lelah bergelantungan dipundakku. Memang sangat susah mencari pekerjaan bagi lulusan SMA sepertiku. Istirahat sejenak di bangku taman, aku memperhatikan kehidupan di sekitar. Seorang anak membawa keranjang cukup besar berisi beberapa roti dan air mineral. Dia berkeliling di sekitar taman dan jalan raya, menghampiri pengunjung taman yang sedang duduk. Anak itu juga mendekatiku untuk menawarkan dagangannya. Rotinya terlihat masih panas dan menggiurkan. Perutku yang mulai keroncongan meminta otakku untuk membelinya. Aku duduk sendirian pada siang yang panas ditemani dengan roti panas yang lezat ku santap dengan lahap beserta pakaian yang mulai kusut.

Siang berganti sore, sudah banyak tempat aku kunjungi baik dari tulisan tersedia pekerjaan bahkan dari lowongan di internet. Belum ada yang menerimaku. Matahari mulai terbenam dan aku memutuskan kembali ke kos. Menghela napas panjang, aku tak pernah berpikir akan sesusah ini mencari pekerjaan. Terbayang di kepalaku, bagaimana selama ini Ayah menafkahi kami sekeluarga. Perasaan bersalah ikut serta dalam kelelahanku. Selama ini aku hanya bisa meminta uang kepada ayah. Rasanya sangat menyedihkan dan mengesalkan kepada diriku.

Pada sepertiga malam terakhir, aku bangun dari tidur dan melaksanakan shalat tahajud. Di hadapan Sang Maha Pencipta, aku mengadukan segala hal. Bagaimana tentang hariku yang belum juga menemukan pekerjaan dan tentang penyesalanku terhadap ayah dan ibu. Aku juga berdoa agar segala ujian yang akan aku jalani dapat dimudahkan oleh-Nya.

Besok aku akan lebih semangat dalam mencari pekerjaan di kota harapanku ini. Untuk kamu yang telah meluangkan waktu membaca kisahku, aku ucapkan terima kasih banyak. Segala kesusahan, kesulitan yang sedang diujikan Allah kepada kita, solusinya juga ada pada Dia. Selalu sertakan Allah dalam setiap hal yang kita lakukan.

SELESAI