USTADZAH FIRDA ANITA, S.H.I : KUNCI SUKSES KEHIDUPAN SEORANG MUSLIM

Setiap orang pasti mendambakan kehidupan yang bahagia dan kesuksesan. Kesuksesan yang hakiki adalah apabila hidup kita sudah dilimpahi oleh kasih sayang dan ridha-Nya Allah terhadap kita, bahkan kitapun mendapatkan balasan yang baik ketika sudah berada di alam akhirat.

Al Quran sebagai pedoman kita, sudah memberikan banyak isyarat bagaimana untuk memperoleh kesuksesn hidup di dunia bahkan di akhirat. Salah satu ayat yang menyatak hal ini terdapat dala surat At Taubah ayat 20, bahwa Allah Swt berfirman:

الَّذِيْنَ أمَنُوْا وَهَاجَرُوْا وَ جَاهَدُوْا بِأَمْوَالِهِمْ وَأَنْفُسِهِمْ أَعْظَمُ دَرَجَةً عِنْدَ اللهِ وأُولئِكَ هُمُ الْفَائِزُوْنَ ( 20 ) يُبَشِّرُهُمْ رَبُّهُمْ بِرَحْمَةٍ مِنْهُ وَرِضْوَانٍ وَ جَنَّاتٍ لَّهُمْ فِيْهَا نَعِيْمٌ مُقِيْمٌ ( 21) خَالِدِيْنَ فِيْهَا أَبَدًا إِنَّ اللهَ عِنْدَه أَجْرٌ عَظِيْمٌ (22)

Orang-orang yang beriman dan berhijrah serta berjihad di jalan Allah dengan harta, benda dan diri mereka, adalah lebih tinggi derajatnya di sisi Allah, dan itulah orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Tuhan mereka menggembirakan mereka dengan memberikan rahmat dari-Nya, keridhaan dan surga, mereka memperoleh di dalamnya kesenangan yang kekal. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Sesungguhnya disisi Allah-lah pahala yang besar”.

Dari ayat ini dapat kita lihat, bahwa kunci untuk meraih kesuksesan (kemenangan) ada tiga:

  1. Beriman

Orang yang sudah beriman adalah orang yang di dalam hatinya terdapat pembenaran terhadap ajaran yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Iman yang teguh akan membuahkan pribadi-pribadi yang berkualitas serta membawa kebaikan bagi lingkungan sekitar. Orang mukmin ini diibaratkan oleh Rasulullah Saw seperti lebah yang apabila ia makan yang baik-baik, mengeluarkan yang baik-baik dan bila ia himggap tidak membuat dahan patah 1.

Beriman adalah kata kunci paling mendasar dalam kehidupan kita. Apabila seseorang tidak memiliki iman maka apapun perbuatannya tidak akan dinilai oleh Allah Swt. Amalan-amalan apapun yang ia kerjakan diibaratkan seperti fatamorgana yang dari jauh terlihat ada tetapi ketika dilihat dari dekat tidak ada apa-apa.

  1. Berhijrah

Dalam kehidupan umat manusia, berpindah dan bergerak menuju tempat yang lebih baik merupakan suatu kemestian. Perpindahan ini dilakukan agar kehidupan kita tidak menjadi stagnan yang hanya akan membuat kehidupan kita tidak berkualitas. Ibarat air, bergerak dan berpindah merupakan suatu hal yang wajib baginya. Apabila air tidak pernah berpindah dan bergerak, maka akan berubahlah ia menjadi kotor, bau dan menjadi sarang penyakit.

Melalui Islam, kita mengenal perpindahan ini dengan nama hijrah. Berpindah dari suatu tempat ke tempat yang lain karena adanya suatu alasan dan tujuan. Rasulullah Saw berulang kali melakukan hijrah untuk mendapatkan keadaan yang lebih baik bagi Islam dan kaum muslimin.

Para ulamapun memaknai hijrah sebagai perpindahan ke arah yang lebih baik, baik itu secara fisik maupun non fisik. Bahkan hijrah menjadi salah satu langkah pertama dalam melakukan taubat. Hal ini bisa kita lihat dalam kisah seorang pembunuh yang telah membunuh 99 orang dan ingin bertaubat yang terjadi pada zaman nabi Musa as. Ulama yang menjadi tempat bertanya pembunuh itu meminta sang pembunuh itu untuk hijrah dari kampungnya menuju sebuah negeri yang baru.

Hijrah yang dimaksud di sini bisa juga dipahami berpindahnya seorang mukmin dari hal-hal yang buruk menuju hal-hal yang baik sebagaimana dalam sebuah hadis beliau:

عن ابن السعدى أن النبي صلى الله عليه و سلم قال: لا تنقطع الهجرة ما دام العدو يقاتل فقال معاوية و عبد الرحمن بن عوف و عبد الله بن عمرو بن العاص إن النبي صلى الله عليه و سلم قال: إن الهجرة خصلتان إحداهما أن تهجر السيئات و الأخرى أن تهاجر ألى الله و رسوله ولا تنقطع الهجرة ما تقبلت التوبة ولا تزال التوبة مقبولة حتى تطلع الشمس من المغرب فإذا تطلعت طبع على كل قلب بما فيه و كفي الناس العمل )رواه أحمد)

Dari Ibnu As Sa’di bahwa Nabi Saw bersabda: kewajiban hijrah tidak akan terputus selama musuh masih memerangi” maka Mu’awiyah, Abdurrahman bin Auf dan ‘Amru bin ‘Ash berkata: Nabi Saw bersabda: “Hijrah itu ada dua macam yang pertama adalah kamu meninggalkan perbuatan-perbuatan dosa. Yang kedua adalah kamu berhijrah kepada Allah dan Rasul-Nya. Kewajiban hijrah tidak akan terputus selama taubat masih diterima, dan taubat akan senantiasa diterima sampai matahari terbit dari barat. Jika matahari sudah terbit dari barat maka setiap hati akan distempel dengan apa yang ada di dalamnya,dan manusia sudah tertutup dari amalan” (HR. Ahmad)2

Dari hadis di atas dapat kita lihat bahwa Rasulullah selalu menyuruh kita untuk berhijrah kepada hal-hal yang baik, sehingga apabila setiap kali kita melakukan amalan-amalan dosa atau melanggar hukum Allah dan Rasul-Nya kita harus hijrah menuju perbaikan diri. Dengan kata lain hijrah adalah suatu kemestian bagi kita sebagai sarana koreksi diri.

  1. Berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah

Hidup yang kita jalani adalah perjuangan untuk selalu berada dalam ridha-Nya. Dalam kehidupan ini, ada hal-hal yang tidak selalu menyenangkan menghampiri kita. Apalagi ketika seseorang sudah menyatakan diri sebagai seorang mukmin yang haq, maka akan selalu ada halangan-halangan yang dia temui.

Untuk membuktikan pengabdian kita terhadap Allah dan rasul-Nya, maka kita akan selalu diminta untuk berjihad. Berjihad ini bisa juga kita pahami dengan berkorban. Pengorbanan yang kita lakukan bisa saja dalam berbagai bentuk. Berjihad dengan harta berarti seseorang siap untuk mengorbankan harta yang ia miliki demi tegaknya agama Allah. Sedangkan berjihad dengan jiwa bisa dipahami bahwa pengorbanan kita dengan seluruh elemen-elemen jiwa. Orang yang berjihad dengan jiwanya akan siap untuk kehilangan hal-hal yang dicintainya seperti kehilangan kesenangan jiwa, orang-orang yang disayangi, bahkan kehilangan nyawanya sendiri.

Orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwa di jalan Allah ini, adalah orang-orang yang sudah meletakkan prioritas utamanya hanyalah untuk Allah semata. Sehingga mereka mampu untuk kehilangan hal-hal yang dianggap berharga orang orang-orang lain pada umumnya.

______________________________

1 Musnad Imam Ahmad no. 6577

2 Musnad Imam Ahmad no 1581

Penulis : Firda Anita, S.H.I (Juara 1 dengan Nilai 85)

“Tulisan ini merupakan hasil dari Lomba Karya Tulis Artikel Keagamaan 2017 Guru Internal Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi dalam rangka memperingati Tahun Baru Hijriah 1 Muharram 1439 H.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*