USTAD MUKLIS. S. Sos.I : MENYELAM DALAM SAMUDERA ILMU

(Awal kalam dalam kitab ‘Ta’limu al-Muta’allim Thariqu al-Ta’allum)

“Ilmu tidak pernah memberikan kepuasan, ilmu justru menjanjikan kehausan, yaitu haus dan ingin segera menyelam pada kedalaman samudera ilmu yang tanpa batas”. (KH. Ali As’ad). Allah Subhanahuwata’ala memuliakan manusia dengan ilmu dan amal. Ilmu tanpa amal akan sia-sia, begitu pula amal tanpa ilmu akan tertolak. al-Ilmu bila ‘amalin ka al-Syajari bila tsamarin”, Ilmu tanpa amal seperti pohon tanpa buah. Begitu petuah yang sering kita dengan saat masih mondok di pesantren. Di pesantren kita selalu diajarkan dan disuntik semangat untuk menuntut ilmu karena menuntut ilmu adalah kewajiban yang bernilai ibadah di sisi Allah Subhanahuwata’ala. Rasululullah bersabda, “Thalabu al-’Ilmi faridhatun ‘ala kulli muslimin wa muslimatin”.

Menuntut ilmu fardhu bagi setiap muslim dan muslimah. (HR Imam Ibnu Majah). Menuntut ilmu juga bertujuan mendapat keberkahan hidup dan jalan kemudahan meraih kebahagiaan dari Allah Subhanahuwata’ala. Bahagia di dunia dan bahagia di akhirat. Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam bersabda, “Man salaka thariqan yaltamisu fihi ‘ilma sahhala al-Allah lahu thariqan ila al-jannah”. Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, Allah Subhanahuwata’ala akan memudahkan jalan baginya menunju surga. Ilmu adalah pohon dan amal adalah buahnya. Ilmu sesungguhnya milik Allah Subhanahuwata’ala. Ilmu Allah Subhanahuwata’ala amat luas dan dalam, seluas dan sedalam samudera. Luasnya tidak seluas mata mamandang dan dalamnya tidak terbatas.

Adapun orang-orang yang menuntun ilmu sesungguhnya ia sedang berenang di luas dan dalamnya ilmu Allah Subhanahuwata’ala dan sedang menampung tetasan-tetesan ilmuNya kedalam mulut untuk menghilangkan dahaga guna meraih bahagia. Karena Allah Subhanahuwata’ala pemilik ilmu maka untuk mendapatkannya seseorang harus menjauhkan dan membersihkan dirinya terlebih dahulu dari hal-hal yang dibenci Allah Subhanahuwata’ala berupa maksiat, durhaka, syirik, hasad, sombong dan keburukan lainnya agar Allah Subhanahuwata’ala cinta kepadanya. ‘Al-Ilmu nuur wa nuru al-Allah la yuhda li al-’ashi”. Ilmu adalah cahaya milik Allah Subhanahuwata’ala, tidak ada diberikan kepada yang bermaksiat.

Kata Imam al-Syafi’i dalam sebuah petuahnya. Seorang ‘penyelam’ ilmu pada dalamnya samudera ilmu itu tidak boleh salah jalan dalam menuju kepada thariqu al-ta’allum, karena salah menyebabkan ia tidak akan menemukan ilmu itu dan tidak boleh pula meninggalkan syarat-syarat menuntut ilmu. Kullu man akhta’a al-thariq dlalla”, Setiap orang salah jalan akan tersesat. Tidak akan mendapatkan ‘buruannya’ yaitu ilmu Allah Subhanahuwata’ala kecil ataupun besar sedikit apalagi banyak. Untuk mendapat ilmu dan kearifan tidak cukup bagi seseorang hanya belajar dengan membaca literatur tetapi hendaklah ia belajar bertalaqqi bermuwajjahah kepada seorang guru. Guru yang dimaksud adalah guru yang ’alim dan ‘arif penuh keteladanan, keshalehan dan hikmah. Sekelumit butiran hikmah tentang filosofi menuntut ilmu ini ada dalam Kitab ‘Ta’limu al-Muta’allim Thariqa al-Ta’allum’. Pelajaran bagi pelajar atau penuntut ilmu tentang jalan belajar. Wallahu a’lam bi al-shawab.

Parabek, 12 Muharram 1439 H/02 Oktober 2017

MUKLIS. S. Sos.I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*