USTAD MUKLIS, S.Sos.I : JIWA SANG PEMIMPIN

Sang Pemimpin itu adalah Muhammad Salallahu’alaihi wa Sallam. Nabi agung yang diutus Allah ‘Azza wa Jalla ke muka bumi membawa risalah suci misi kenabian, menancapkan panji Islam, memberantas kemusyrikan, menebar spirit rahmatan lil alamin kepada semua umat. Mari kita belajar tentang kekuatan tekat kematangan jiwa dari Sang Pemimpin agar kita kelak menjadi pemimpin yang berjiwa baja. InsyaAllah! Kebesaran jiwa Sang Pemimpin dapat kita pelajari dari peristiwa bersejarah perang Uhud. Perang yang terjadi antara kaum muslimin dengan kafir Mekkah saat setelah kafir Quraiys mengalami kekalahan dalam perang badar. Tentu saja saya tidak menulis secara detail rentetan perang itu dalam tulisan singkat ini tapi berusaha menyemai nilai-nilai patriotisme yang ada dalam dada Sang Pemimpin Agung, yaitu Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam.

Dalam kitab al-Rahiiqu al-Makhtuum. Bahtsun fi al-Sirah al-Nabawiyah ‘ala shaahibiha Afdhala al-Shalaatu wa al-Salaam, Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfury mengisahkan. Ketika Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam laporan kabar dari Abbas bin Abdul Muthallib di Mekkah tentang akan datangnya ribuan pasukan musyrikin untuk menyerang kaum muslimin di Madinah menuntut balas atas kekalahan telak mereka pada perang Badar, beliau segera mengumpulkan para sahabat terkemuka dari kaum Muhajirin dan Anshar guna bermusyawarah untuk mengambil sikap dan menentukan langkah menghadapi situasi ini.

Dalam majelis itu, Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam berkata, “Innii qad raaitu wallaahi khairan, raaitu baqaran yudzbahu, wa raaitu fi dzubaabi saifii tsulman, wa raaitu annii adkhaltu yadii fi dar’i hashiinatin”. Artinya, “Sesungguhnya demi Allah aku bermimpi melihat kebaikan, aku melihat seekor sapi yang disembelih, aku melihat sarung pedangku retak, dan aku memasukkan tanganku ke dalam baju besiku”.

Sebuah pesan kenabian yang pasti memiliki kebenaran diucapkan dengan lafadz-lafadz indah yang tidak semua orang dapat memahaminya. Yang dimaksud dengan “raaitu baqaran yudzbahu” adalah para sahabat yang akan shahid dalam perang itu, yang dimaksud dengan “dzubaabi saifii tsulman” ahli al-bait nabi yang akan mati, adapun yang dimaksud dengan “annii adkhaltu yadii fi dar’i hashiinatin”, adalah Madinah akan menjadi tempat aman buat berlindung. Lalu, dimana letak kebesaran jiwa Sang Pemimpin?. Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam kabarkan mimpi itu kepada sahabat. Beliau berpendapat untuk tidak keluar dari Madinah dan tetap berada dalam kota menjaga dan melindungi diri anak dan istri dari serangan kafir Quraisy. Tapi ini adalah ide pikiran nabi untuk untuk dijadikan bahan diskusi. Sekali lagi ide untuk dirembukkan bersama. Walaupun sebagai nabi otoritas ada dalam genggaman Sang Pemimpin. Adapun dalam majelis musyawarah itu, ada yang sependapat dengan pendapat beliau ada pula yang punya pandangan yang lain.

Adalah Abdullah bin Ubay bin Salul, seorang tokoh sekaligus gembong kaum munafiq yang hadir dalam majelis itu sebagai wakil para pemuka suku Khazraj, sebuah puak dalam masyarakat Madinah sependapat dengan pandangan Rasululullah Salallahu’alaihi wa Sallam. Sepahamnya ‘musuh (islam) dalam selimut’ ini, bukan karena ia menganggap pendapat atau ide Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam itu banar, melainkan karena ide itu menguntungkan buat orang-orang munafiq yang penakut agar terhindar dari perang dan tidak menjadi korban dan pada saat yang sama kemunafikan mereka tidak diketahui.

Adapun para shahabat yang setia justru punya pandangan yang berbeda. Mereka justru melihat bahwa keluar menghadapi pasukan kafir itu lebih baik guna menunjukkan kekuatan tekat dan keimanan kepada Allah ‘Azza wa Jalla sehingga kafir Quraisy bertambah gentar. Dialah Hamzah bin Abdul Muthallib paman Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam yang mengusulkan ide berani dan mengobarkan semangat juang agar bersiap keluar dan melawan kaum musyrikin. Melihat api jihad yang membara dan kekuatan iman pada sahabat yang mantap, Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam memilih pendapat para sahabat.

Kaum musliminpun bersiap menggalang kekuatan menghadapi kaum Quraisy di medan Uhud. Detik-detik menjelang ditabuhnya genderang perang, Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam menunaikan shalat Jum’at bersama para sahabat. Saat itu beliau berkutbah menasehati mereka untuk senantiasa bersungguh-sungguh dan penuh semangat dalam berjihad. Memotivasi mereka dengan suntikan iman dan ma’unah Allah ‘Azza wa Jalla.

Spirit itu telah mengobarkan api jihad di dalam dada setiap pasukan Islam. Persis setelah Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam menunaikan shalat Ashar berjama’ah, beliau masuk ke dalam rumahnya bersama dua orang sahabat utama yaitu Abu Bakar Shiddiq ra dan Umar bin Khatthab ra. Mereka berdua memakaikan imamah (sejenis serban) dan baju perang beliau. Beliau sendiri yang menyarungkan pedangnya lalu mengenakan baju besinya. Kemudian Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam keluar rumah menemui kaum muslimin. Para sahabat menanti Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam.

Suasana tegang dan penuh haru manakala mereka menyadari sebenarnya telah membuat Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam sedih dengan keputusan ini. Sa’ad bin Mu’adz dan Asyad bin Hudhair, kedua sahabat Anshar ini mengingatkan kepada kaum musliminn agar menyerahkan urusan ini kepada Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam. Mereka berkata, “Yaa Rasulullaah, Maa kaana lanaa an nukhaalifaka, fashna’ ma syi’ta, in ahbabta an tamkutsa bi al-Madinah faf’al”. Artinya, “Wahai Rasulullah, tidaklah kami sedikitpun mengingkari pendapatmu, maka lakukanlah sekehendakmu. Jika engkau memilih untuk tetap bertahan di Madinah, perintahkanlah wahai Rasulullah?”. Mendengar itu, Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam berkata dengan tegar dan heroiknya, “Maa yanbaghi linabiyyin, idza labisa la’matahu, -wa hiya al-dar’u- an yadha’aha, hattaa yahkumallahu bainahu wa baina ‘aduwwihi.” Artinya, “Tak pantas bagi seorang nabi, jika telah mengenakan pakaian perang, -yaitu baju besi-, lalu melepaskannya kembali. Biar Allah yang menentukan keputusan untuknya (kaum muslimin) atau untuk musuhnya.”.

Dari peristiwa bersejarah ini, dapat kita memetik pelajaran berharga tentang jiwa kepahlawanan dan kepemimpinan yang dimiliki Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam. Sebagai kepala negara beliau memiliki hubungan yang kuat dengan dunia luar dan akses informasi yang kuat pula mengenai berbagai hal terutama tentang politik. Pemimpin yang menjadikan musyawarah mufakat sebagai wadah melahirkan kebijakan untuk mencapai tujuan meskipun beliau adalah seorang nabi yang titah beliau notabene adalah wahyu yang memiliki otoritas kebenaran yang mesti diikuti. Jiwa tegar pantang menyerah, sekali maju pantang mundur walau selangkah adalah spirit yang patut kita jadikan uswah dari sosok beliau.

Kecerdasan membaca jalan pikiran dan kemampuan membakar semangat para sahabat adalah sisi lain yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin. Termasuk bagaimana beliau dengan tegas memutuskan sebuah perkara yang diperselisihkan dan konsisten dengan penuh tanggung jawab melaksanakan sesuatu yang telah diputuskan adalah contoh dari Sang Nabi. Tak lupa semangat berjama’ah adalah sebuah semangat yang menjadi kultur yang mendarah daging dalam diri umat Islam. Itu adalah kunci-kunci untuk mencapai sebuah kemenangan, kegemilangan dan kejayaan. Semuanya itu, telah ada ada pada diri Sang Pemimpin. Begitulah sekelumit kisah patriotisme Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam dalam menghadapi situasi genting. Sikap yang menunjukkan kebesaran jiwa dan kekuatan mental.

Sikap yang mesti dimiliki oleh setiap pemimpin. Dialah Sang Pemimpin. Itulah jiwa Sang Nabi. Nabiyullah wa habibuHu ‘Alaihi al-Shalaatu wa al-Salam. Wallahu a’alam bi al-shawab. *) Penulis sadur dari buku bacaan dalam kitab al-Rahiqu al-Makhtum. Bahtsun fi al-Sirah al-Nabawiyah ‘ala shahibiha Afdhala al-Shalatu wa al-Salam, Karya Fadhiilati al-Syekh Shafiyurrahman al-Mubarakfury. Dar al-Wafaa’ Jumhuriyatu Mishr al-’Arabiyah. (Hal 225-228). Parabek, 27 Muharram 1439 / 17 Oktober 2017

Muklis Syamsuddin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*