CORE VALUE RABU 29 NOVEMBER 2017 : Ustadzah Loviana, S.Pd.I (Wara’) & Pengumuman Juara Lomba Karya Tulis Guru Internal

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيمِ

Rabu, 29 November 2017 pukul -+ 7:15 WIB – selesai Civitas Akademik Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi kembali mengadakan kegiatan rutin Core Value. Pada kegiatan Core Value hari ini yang menyampaikan tausiyah adalah Ustadzah Loviana, S.Pd.I  selaku Guru Bimbingan Konseling di Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi.

Ustadzah Loviana, S.Pd.I mengatakan : “Wara’ secara integritas diartikan bahwa ketika kita teliti(berhati-hati) dalam menilai sebuah tindakan, maksudnya adalah banyak menahan diri (dalam perkara yang Allah dan Rasul-Nya haramkan, atau minimal yang subhat).” tuturnya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pernah menyampaikan nasehat berharga pada Abu Hurairah,

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ كُنْ وَرِعًا تَكُنْ أَعْبَدَ النَّاسِ وَكُنْ قَنِعًا تَكُنْ أَشْكَرَ النَّاسِ وَأَحِبَّ لِلنَّاسِ مَا تُحِبُّ لِنَفْسِكَ تَكُنْ مُؤْمِنًا وَأَحَسِنْ جِوَارَ مَنْ جَاوَرَكَ تَكُنْ مُسْلِمًا وَأَقِلَّ الضَّحِكَ فَإِنَّ كَثْرَةَ الضَّحِكِ تُمِيتُ الْقَلْبَ

Wahai Abu Hurairah, jadilah orang yang wara’, maka engkau akan menjadi sebaik-baiknya ahli ibadah. Jadilah orang yang qona’ah (selalu merasa cukup dengan pemberian Allah), maka engkau akan menjadi orang yang benar-benar bersyukur. Sukailah sesuatu pada manusia sebagaimana engkau suka jika ia ada pada dirimu sendiri, maka engkau akan menjadi seorang mukmin yang baik. Berbuat baiklah pada tetanggamu, maka engkau akan menjadi muslim sejati. Kurangilah banyak tertawa karena banyak tertawa dapat mematikan hati.” (HR. Ibnu Majah no. 4217. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).

Dinukil dari Madarijus Salikin (di halaman yang sama), Ibrahim bin Adham berkata,

الورع ترك كل شبهة وترك ما لا يعنيك هو ترك الفضلات

“Wara’ adalah meninggalkan setiap perkara syubhat (yang masih samar), termasuk pula meninggalkan hal yang tidak bermanfaat untukmu, yang dimaksud adalah meninggalkan perkara mubah yang berlebihan.”

Sahl At Tursturiy berkatas, “Seseorang tidaklah dapat mencapai hakikat iman hingga ia memiliki empat sifat: (1) menunaikan amalan wajib dengan disempurnakan amalan sunnah, (2) makan makanan halal dengan sifat wara’, (3) menjauhi larangan secara lahir dan batin, (4) sabar dalam hal-hal tadi hingga maut menjemput.”

Lihatlah bagaimana sikap Imam Nawawi rahimahullah dalam menyikapi apabila ada keragu-raguan dalam masalah suatu hukum, halal ataukah haram. Beliau berkata,

فَإِذَا تَرَدَّدَ الشَّيْء بَيْن الْحِلّ وَالْحُرْمَة ، وَلَمْ يَكُنْ فِيهِ نَصّ وَلَا إِجْمَاع ، اِجْتَهَدَ فِيهِ الْمُجْتَهِد ، فَأَلْحَقهُ بِأَحَدِهِمَا بِالدَّلِيلِ الشَّرْعِيّ فَإِذَا أَلْحَقَهُ بِهِ صَارَ حَلَالًا ، وَقَدْ يَكُون غَيْر خَال عَنْ الِاحْتِمَال الْبَيِّن ، فَيَكُون الْوَرَع تَرْكه ، وَيَكُون دَاخِلًا فِي قَوْله صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( فَمَنْ اِتَّقَى الشُّبُهَات فَقَدْ اِسْتَبْرَأَ لِدِينِهِ وَعِرْضه )

“Jika muncul keragu-raguan akan halal dan haramnya sesuatu, sedangkan tidak ada dalil tegas, tidak ada ijma’ (konsensus  ulama); lalu yang punya kemampuan berijtihad, ia berijtihad dengan menggandengkan hukum pada dalil, lalu jadinya ada yang halal, namun ada yang masih tidak jelas hukumnya, maka sikap wara’ adalah meninggalkan yang masih meragukan tersebut. Sikap wara’ seperti ini termasuk dalam sabda Nabi -shallallahu ‘alaihi wa sallam-, “Barangsiapa yang selamat dari perkara syubhat, maka ia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya.” (Syarh Muslim, 11: 28).

Ustad Taufiq Hidayat, S.Th.I selaku Kepala Sekretariat, Humas & Keuangan pada kesempatan tersebut menyampaikan beberapa informasi, diantaranya :
1. Hari ini santri yang mengikuti MQK Tingkat Nasional VI sudah berangkat ke Jepara – Jawa Tengah.
2. Pengumuman hasil Lomba Karya Tulis Guru Internal dalam rangka peringatan tahun baru hijriah 1 Muharram 1439 H.
Dari hasil penilaian yang telah dilakukan oleh Panitia Lomba Karya Tulis Guru didapati beberapa pemenang pada lomba tersebut, diantaranya :

Juara 1 : Ustadzah Firda Anita, S.H.I (Nilai 85)
Juara 2 : Ustadzah Anna Gusnawita, SE (Nilai 82)
Juara 3 : Ustad Syahrul Ramli, S.Pd, M.Pd (Nilai 81)

Harapan 1 : Ustadzah Khaifa Husni, S.Pd
Harapan 2 : Ustad Muhammad Syafrizal, S.Ag
Harapan 3 : Ustadzah Hilma Permata Suci, S.Pd

Semoga kita semua menjadi pribadi-pribadi muslim yang memiliki sifat wara’ (berhati-hati) dalam setiap perbuatan yang kita lakukan di dunia fana ini. آمِيْن يَا رَبَّ العَالَمِيْنَ

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*