Ustad MUKLIS, S.Sos.I : KURIKULUM ITU ADALAH GURU

KH Abdullah Syukri Zarkasyi pernah ditanya : Apa kunci sukses pesantrennya mengembangkan pendidikan di Indonesia?, beliau menjawab, “guru”. Guru seperti apa dan bagaimana?. Beliau menjawab : “Al maddah muhimmah wa ahammu min dzalika at-thariqah”. Materi penting, tapi metode lebih penting. “At-Thariqah ahammu min al-Maddah”. Lanjutnya, “At-Thariqah muhimmah, bal al-mudarris ahammu minha”. Metode penting, tapi guru lebih penting. Lalu, “al-Mudarris, muhim bal ruhul mudarris ahammu min dzalik”. Guru penting, tetapi ruh guru jauh lebih penting.

Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) yang juga mantan guru besar Universitas Muhammadiyah Malang Muhadjir Effendy dalam satu seminar di Jakarta mengatakan, “…Kurikulum itu sesungguhnya adalah guru. Apa yang ada di pikiran dan di hati guru itulah yang kemudian dikelola bersama-sama dengan siswa, itulah kurikulum.” Kaisar Hirohito, pernah bertanya kepada jenderalnya. “Berapa jumlah guru yang tersisa?”. Ingatkah kita saat Jepang pernah hancur karena kota Nagasaki dan Hiroshima dibom Amerika.

Jepang waktu itu lumpuh total tak berdaya. Korban tewas tak terbilang banyaknya, belum lagi efek radiasi bom atom tersebut yang dalam perkiraan membutuhkan puluhan tahun untuk melenyapkan semua itu. Maka Jepang terpaksa menyerah kepada sekutu, dan setelah itu Kaisar Hirohito mengumpulkan semua Jenderal yang masih tersisa lalu menanyakan kepada mereka, “Berapa jumlah guru yang tersisa?”. Mendapat pertanyaan itu, para jenderal bingung dan menegaskan kepada kaisar bahwa mereka masih bisa menyelamatkan dan melindungi kaisar walau tanpa guru. Namun Kaisar Hirohito kembali berkata, “Kita telah jatuh, karena kita tidak belajar. Kita kuat dalam senjata dan strategi perang. Tapi kita tidak tahu bagaimana menciptakan bom yang sedahsyat itu. Kalau kita semua tidak bisa dan mau belajar bagaimana kita akan mengejar mereka?. Maka kumpulkan semua guru yang masih tersisa di seluruh pelosok negeri, karena sekarang kepada mereka kita akan bertumpu, bukan kepada kekuatan pasukan.”.

Kenalkah kita Syaikh Aaq Syamsuddin?. Bagaimana kisahnya?. Dalam buku “Al-Fatih” karya Ust Felix Siaw yang ditulis atau disalin Aynun dalam blognya. Syaikh Aaq Syamsuddin adalah seorang ulama tipe polimath (seorang yang pengetahuannya tidak hanya terbatas pada satu bidang). Ia menjadi seorang Hafidz al-Qur’an pada usia 7 tahun dan sangat ahli dalam bidang Biologi, Kedokteran, Astronomi, dan pengobatan herbal. Syaikh Aaq Samsuddin adalah guru utama Sultan Mehmed II atau yang lebih dikenal dengan Sultan al-Fatih. Syaikh inilah ulama sekaligus guru yang sangat berpengaruh dalam pembentukan mental Sultan Mehmed II. Syaikh Aaq Syamsuddin tidak hanya mendidik Mehmed dengan ilmu yang ia kuasai melainkan juga dengan penanaman mental di dalam diri Mehmed. Ia juga yang selalu mengingatkan Mehmed akan hadits nabi yang mengatakan bahwa Konstantinopel akan jatuh ke tangan penguasa Usmani.

Di samping itu, Syaikh Aaq Syamsuddin selalu menanamkan kapribadian nabi Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam melalui sirah-nya kepada Mehmed, menceritakan kepahlawanan dan kesatriaan para sahabat dan para penakluk awal, kehebatan mereka yang tak terbentung, bahkan Syaikh Aaq Syamsuddin sendirilah yang selalu mengulang-mengulangi perkataannya kepada Mehmed, bahwa dirinya (Mehmed) pemimpin yang dimaksud dalam hadits Rasulullah Salallahu’alaihi wa Sallam yang diriwayatkan Ahmad “Konstantinopel akan takluk di tangan seorang laki-laki, maka sebaik-baiknya pemimpin adalah pemimpinnya dan sebaik-baiknya atentara adalah tentaranya.”.

Apakah kita seorang guru atau pendidik di sekolah, madrasah, dan pesantren. Maka segalanya tergantung kita. Apapun kurikulumnya yang penting kitanya. Apapun bentuk, visi misi dan tujuan pendidikan sebuah lembaga. Mutu bagaimana yang ingin dicapai serta mau dibawa kemana peserta didik kemudian, semuanya terpulang kepada kita, guru. Melangitnya visi, tajamnya misi dan jelasnya tujuan sebuah lembaga pendidikan, itu semua tidak akan tercapai tanpa seorang guru. Karena guru adalah kurikulum. Kembali kita renungi petuah Kiai Syukri di atas. Bahwa materi, metode dan strategi pembelajaran itu semua dapat menjadi motivasi, inspirasi dan nilai yang bisa membangun karakter peserta didik jika disajikan oleh seorang guru hebat yang berjiwa atau memiliki ruh guru. Jika tidak, tidaklah ada nilainya. Semoga kita bisa menjadi guru yang memiliki ruh guru. Wallahu a’alam bi al-shawab.

Parabek, 25 Muharram 1439 / 15 Oktober 2017

Ustad Muklis, S.Sos.I (Kepala Madrasah Aliyah Pondok Pesantren Sumatera Thawalib Parabek Bukittinggi)

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*