USTAD IRWAN NEFRI, S.Pd.I : SURAU TINGGA (PENGANTAR)

Pengantar

Bukanlah suatu yang aneh ketika kita berjalan di beberapa daerah di Sumetara Barat dan menemukan pemandangan yang barangkali mengingatkan kita pada masa lalu yang penuh kenangan, pergi mengaji pakai obor, tidur di surau, belajar silat dan banyak lagi memori yang lainnya, pemandangan itu adalah surau. Tapi hari ini pemandangan tersebut juga membuat hati kita pilu karena surau dahulu tidak sama lagi dengan surau sekarang. Berdasarkan pengamatan penulis di beberapa daerah seperti di 50 kota, Tanah Datar, Agam dan Pariaman masih ada beberapa surau yang tidak aktif lagi, terutama di daerah perkampungan. Konidisi fisik surau tersebut juga memprihatinkan bahkan nyaris roboh, atap sudah bolong, tonggak dimakan rayap, lantai juga sudah lapuk. Apakah kondisi ini menggambarkan lapuknya syara’ dan adat di ranah minang? Tentu saja itu butuh kajian yang lebih mandalam dan data yang akurat.

Fenomena menarik dari kajian surau adalah banyaknya produk dan tokoh terkemuka yang mendapatkan pendidikan surau berhasil menjadi ‘orang’ di negeri ini. Sebut saja Bung Hatta atau lebih dikenal dengan Mohammad Hatta, tokoh proklamator kemerdekaan dan Wakil Presiden Republik Indonesia pertama. Hatta memperoleh pendidikan agama dari kakeknya Syekh Abdurrahman di Bahuhampu dan di Surau Inyiak Jambek di Bukittinggi (Hasril Chaniago 2010: 22). Nama Syekh Muhammad Djamil Djambek disebut Mohammad Hatta dalam buku Untuk Negeriku, Sebuah Otobiografi (Penerbit Buku Kompas). Hatta menyebut Syekh Muhammad Djamil Djambek seorang ulama besar yang terkenal sampai ke luar daerah. Beliaulah yang pertama kali membimbing langkah Hatta ke jalan pengetahuan Islam. Lulusan surau ini telah mendampingi Presiden Republik Indonesia pertama ketika memproklamasikan kemerdekaan Republik Indonesia.

Begitu hebatnya pendidikan surau membentuk karakter seseorang, sehingga banyak pihak yang merasa cemas, takut, dan gamang, bagaimana jadinya generasi selajutnya jika surau sudah berkurang fungsinya di tengah-tengah masyarakat. Kecemasan, keraguan, dan bahkan ketakutan umumnya masyarakat terhadap anak kemenakannya dalam menghadapi budaya baru globalisasi  yang sangat tidak bisa dibendung, apalagi mereka sangat dangkal pemahaman agamanya menjadikan banyak masyarakat ingin menyuarakan program gerakan kembali ke surau. Kegamangan masyarakat akan pentingnya pendidikan surau inilah yang menyebabkan banyak pihak mempunyai keinginan untuk mengembalikan fungsi surau dengan wacana kembali ke surau. Akan tetapi surau telah banyak tidak difungsikan sejak digantikan fungsinya oleh mushala atau masjid.  Hanya beberapa surau saja yang berfungsi, itupun hanya sebagai tempat sholat berjamaah saja. Oleh karena itu, hal yang bisa dilakukan adalah mengembalikan fungsi surau dengan membudayakan tradisi surau di tengah masyarakat khusus keluarga di Minangkabau.

Fungsi surau di Minangkabau

Dalam khasanah filosofi kebudayaan Minangkabau, surau memiliki peran yang sangat penting dalam struktur sosial masyarakat. Surau tidak hanya dianggap sebagai sebuah lembaga keagamaan, tetapi memiliki fungsi sebagai tranformasi nilai-nilai budaya dan agama dalam masyarakat Minangkabau. Wujud fungsi surau tersebut terlihat dari kurikulum yang diajarkannya. Di Surau tidak hanya mengaji-mengaji saja, tetapi juga memiliki kurikulum bersilat, berpidato adat,  berceramah agama dan lainnya.

Konsep ini sangat relevan dan sejalan dengan visi dan misi Kemendikbud RI tentang pendidikan karakter yaitu untuk pembentukan karakter bangsa yang berorientasi pada pembudayaan, pemberdayaan, dan pembentukan kepribadian dengan karakter unggul antara lain kejujuran, berakhlak mulia, mandiri serta cakap dalam menjalani hidup (dalam Permendikbud nomor 22 tahun 2015 tentang rencana strategis Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan tahun 2015-2019). Sistim pendidikan surau ini mempunyai karakteristik, setidaknya dari rumusan isi terlihat mengajarkan tiga bidang keilmuan yakni (1) agama, (2) adat dan (3) silat. Setidaknya ada tiga hal yang bisa dikembangkan dari karakter surau ini.  Pertama, pendidikan ilmu agama. Pendidikan agama yang diajarkan di surau mulai pokok-pokok akidah (tauhid), akhlak mulia serta penerapannya dalam kehidupan diikuti dengan pengajaran agama Islam yang mudah dipahami dan diamalkan. Dimulai dengan pendidikan Alquran, yang terdiri dari pengenalan huruf hijaiyah, tajwid, tafsir alquran, seni membaca Alquran, bahkan di surau-surau tertentu menganjarkan tasauf, mantik, sharaf dan lainnya.

Kedua, pendidikan adat.( bersambung…)

 

CUPLIKAN PROFIL PENULIS
Nama : Irwan Nefri, S.Pd.I Lahir di Lubuk Bandaro, 09 September 1987
Akitifitas Rutin: Guru di Ponpes Sumatera Thawalib Parabek, Pelatih silat, Pembina remaja Mesjid dan Surau

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*