“RINTIKAN HUJAN”

12038438_849274825180299_8988981534653767274_nKetika hujan mulai turun. Membasahi semua yang ia hinggapi. Hewan, tumbuhan, dan manusiapun selalu senang ketika hujan menyapa mereka. Terkhusus manusia, ketika hujan membasahi bumi tempat mereka berpijak. Sebagian kecil dari mereka mengejek hujan yang turun. Mungkin menghalangi aktifitas-aktifitas mereka. Apakah mereka lupa?, hujan itu adalah rahmat. Yang memiliki rahmat hujan itu adalah dzatyang maha mengetahui segala sesuatu yang terbaik untuk hamba-Nya. Ketika Allah subhanahu wata’ala menurunkan hujan, berarti hujan itu adalah yang terbaik bagi hamba-Nya saat itu.

Rintikan-rintikan hujan yang dapat ku dengar dari luar. membuatku teringat akan kisah seorang shahabat Rasulullahshalallahu ‘alaihi wasallam, pada saat beliau mendapatkan hidayah ketika mendengar lantunan ayat suci Al-quran dari lisan sang pujaan hati, yang kita rindui untuk bertemu, yang bila mengingatnya kita yang mencintai beliau akan menangis, akan merasakan hinanya kita jadi manusia. Itulah beliau, baginda Rasulullah Shalalallahu ‘alaihi wasallam.

Shahabat itu ialah mush’ab bin umair radhiyallahu ‘anhu. Seseorang remaja Quraisy terkemuka, paling tampan, penuh dengan jiwa dan semangat muda. Sejarawan dan ahli riwayat menjelaskan masa mudanya dengan ungkapan”seorang penduduk mekkah yang mempunyai nama paling harum.”

Sebelum beliau masuk islam mush’ab bin umair atau disebut juga dengan mush’ab yang baik adalah pemuda yang cerdas, terlahir dan dibesarkan dari keluarga kaya yang memanjakan beliau dengan makanan lezat, pakaikan/gaun indah, dan selalu menjadi primadona di kalangan remaja wanita mekkah.

Suatu hari, anak muda ini, mush’ab bin umair mendengar berita tentang baginda Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam Yang mulai menjadi perhatian penduduk mekkah; karena beliau menyatakan diri beliau sebagai utusan Allah subhanahu wata’ala yang membawa kabar gembira dan pemberi peringatan, sebagai penyeru yang mengajak umat beribadah kepada Allah Yang Maha Esa.

Disaat senja menyapa. Mush’ab yang baik ini, pergi ketempat biasanya rasululah menyampaikan atau mengajarkan shahabat-shahabat beliau dibukit shafa dirumah Al-Al-Arqam bin Abul Al-Arqam atau dikenal juga darul Arqam. Ketika mush’ab baru saja duduk, ayat-ayat Al-quran mengalir dari kalbu rasulullah saw. Bergema melalaui kedua bibir beliau, mengalir sampai ketelinga dan meresap ke dalam hati para pendengar. disenja itu hati mush’ab telah berubah menjadi hati yang tunduk oleh ayat-ayat Al-quran. Keharuan yang beliau rasakan hampir-hampir saja membuat tubuhnya terangkat dari tempat duduknya. Ia seolah-olah terbang karena gembira. Tetapi, Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam mengulurkan tanganya yang penuh kasih sayang dan mengurut dada pemuda yang sedang bergejolak itu. Tiba-tiba, hatinya menjadi tenang dan tentram.[1]

Hujan pun mulai reda, terdengar suara gembira dari hewan-hewan yang hidup di bumi rabb-Nya. Yang tadi gersang telah berubah menjadi subur karena adanya hujan yang membasahinya. Layaknya mush’ab bin umair radhiyallahu ‘anhu, hati yang gersang sebelum islam masuk kehati beliau, menjadi tenang dan tentram ketika beliau masuk islam. Lantas bagaimana dengan kita?. Yang telah terlahir dari keluarga islam. Apakah telah kita rasakan indahnya beriman kepada Allah?, tentramnya hati kita ketika beribadah kepada Allah?, senangnya kita, ketika mengaku kita adalah seorang muslim/muslimah sejati?. Itu semua, dapat pembaca jawab sendiri. Jikalau belum, tumbuhkanlah rasa ingin disapa hidayah Allah Subhanahu wata’ala. Mudah-mudahan Allah selalu memberi taufiq dan hidayahnya kepada penyusun, dan kepada pembaca hafidzakumullahu jami’an.

Wallahu a’lam bishshawab.
Ma’a taufiq wal hildayah fihayatina.
Aamiin.

-fahmi shidiq ibnu effendi.
Fashluddin.

1. Biografi 60 shahabat rasulullah. Karangan khalid Muhammad khalid yang telah ditahqiq. Penerbit Ummul qura. Hal 34.