“MENTAL INLANDER”

Oleh. Nurul Ramadhani

nurulMelihat akar sejarah yang mulai goyah, keropos dan layu, seperti itulah mental rakyat Indonesia yang kian hari kian memburuk. Indonesia pernah berada dalam titik nadir yang penuh dengan kebobrokan. Hingga penjajahpun enggan enyah dari bumi persada. ”Hukum selalu berpihak kepada orang-orang lemah yang tak mengerti apa-apa. Sementara para pembuat hukum sibuk mencari jalan keluar jika seandainya suatu saat mereka yang melanggar hukum tersebut. Realitas negara demokrasi yang hanya bertumpu pada suara terbanyak, tanpa mempertimbangkan benar tidaknya hasil keputusan yang mereka tetapkan”. Inilah agaknya gejolak batin yang tertanam dalam jiwa bangsa yang konon katanya pernah disapa sebagai negara boneka ini. Inilah kehidupan Indonesia yang selalu diikuti pro dan kontra.

Sejarah akan kembali terulang, penjajahan akan mengakar mati di bumi Indonesia. Meski kemerdekaan telah disampaikan dengan lantang keseluruh penjuru negri. Penyakit yang dititipkan Belanda sepertinya akan menggerogoti seluruh aspek kehidupan bangsa ini. Pengaruh ke-kamian, politik adu domba akibat westernisasi (kebarat-baratan) membuat generasi indonesia menjadi generasi instan yang cendrung bermental inlander, sikap merasa paling benar yang ujung –ujungnya memandang enteng orang lain menjadi penyakit akut yang diabaikan. Rasa profesionalitas yang semakin labil, kian memudarnya rasa membutuhkan orang lain membuat generasi indonesia dengan mudah akan melupakan sejarahnya. Siapa lo siapa gue, inilah prinsip dasar kaum muda saat ini. permasalahan ini bukan masalah perbedaan dialek atau latar belakang budaya, tetapi permasalahan ini adalah permasalahan identitas, jati diri dan wibawa bangsa yang tidak boleh dianggap remeh.

Sebelumnya sang proklamator telah memikirkan nasib kita kedepannya. Padahal mereka tidak tahu untuk siapa darah mereka ditumpahkan. Rela bertaruh nyawa untuk orang-orang yang belum tentu mengenang mereka.Tapi lihatlah kebelakang, ada saatnya kita merenung dari siapa dan untuk siapa sebenarnya negara yang kita tumpangi ini. Pantaskah kita sebagai generasi yang labil mengaku menjadi bagian penting Bangsa ini? siapakah kita sebenarnya?.

“Perjuanganku tidak sulit, karna aku melawan penjajah. Perlawananmu yang sulit karena melawan bangsamu sendiri”(Soekarno).

Darah dan kenyamanan hidup yang mereka korbankan dianggap sebagai sesuatu yang tidak sulit. Pernahkah kita berfikir apa yang melatar belakangi beliau sehingga dengan mantapnya beliau mengatakan bahwa perjuangan beliau tidak sulit?. Nasehat ini bukan masalah klise, karna memang kenyataan saat ini sama persis seperti gambaran yang beliau berikan. Dahulu para pejuang bangsa ini melawan penjajah yang benar-benar terbukti salah.Tapi saat ini kita berjuang melawan bangsa sendiri yang belum tahu siapa yang salah karna semuanya merasa paling benar. Inilah beban berat yang menjadi tanggungan kita bersama.Tak ada yang bisa memperkirakan bagaimana kesudahan negara yang telah dibela berabad-abad lamanya. Tak ada yang bisa memastikan sampai kapan Indonesia bisa bertahan sebagai sebuah negara. Kajian terpenting kita sebenarnya ialah mengenai kemerosotan moral dan karakter jiwa generasi bangsa.

Segala aspek kehidupan selalu memperhatikan kedudukan. Moral dan kepribadian selalu dinomor duakan,seolah-olah hanya menjadi bagian pelengkap kehidupan saja. Padahal, moral dan kepribadian adalah nafas yang tidak bisa dipisahkan dari kehidupan itu sendiri. Stratifikasi yang memandang semuanya dari segi materi (siapa dan memiliki apa) melahirkan kecendrungan menghalalkan segala cara untuk meraih sesuatu yang diinginkan.

Betapa banyak orang yang mengaku berilmu, tapi justru terjerumus oleh ilmunya sendiri.Terkadang tanpa disadari semakin tinggi ilmu seseorang, semakin banyak cara yang didapatkan untuk mendustai kebenaran. Itulah sebabnya, akhlak tidak bisa dijadikan hanya sebagai pelengkap kehidupan. Disinilah sangat dituntut peran dari sebuah lembaga pendidikan. Sekolah tak hanya mengajari muridnya sebatas materi.Tetapi,sekolah harus sanggup menjadi pendidik,pengayom dan menjadi pelecut mental dan semangat untuk seluruh siswanya. Serta, membentengi siswanya agar tidak bermental inlander yang mudah menyerah dan menjadi bangsa yang mudah diobok-obok.

Sistem pendidikan Indonesia yang jauh tertinggal baik dari segi pendidikan umum,pendidikan skill maupun pendidikan moral menjadikan Indonesia sebagai bahan perbandingan yang tak kunjung selesai. Pemikiran yang dangkal membuat banyak generasi bangsa seolah-olah malu mengakui statusnya sebagai bagian dari negara ini. Jika seandainya semua rakyat indonesia malu menjadi bagian bangsa Indonesia ini sia-sialah perjuangan orang-orang sebelum kita. Jika bukan kita siapa lagi yang akan mempertahankan negara ini. perjuangan yang penuh darah,jeritan tangis melawan pedihnya perlakuan imperalisme,kematian yang tidak lagi dianggap sebagai hal yang menakutkan membuktikan kepada dunia betapa susahnya menaikkan bendera pusaka hingga ke ujung tiang tertinggi. Sekarang setelah semuanya benar-benar dalam posisi aman,dengan mudahnya generasi bangsa yang hampir tuli ini melupakan sejarahnya. Sejarah hanyalah sejarah, yang menjadi bahan klise untuk diperbincangkan saat ini.

Melihat kenyataan saat ini orang-orang yang dianggap “cerdas dan berpendidikan tinggi” malah lebih memilih untuk menjadi tenaga kerja di luar negri dengan alasan gaji yang besar dan fasilitas hidup yang menjanjikan. Materialistis sangat berpengaruh di Negri ini. Generasi yang cendrung memperhatikan hasil meskipun proses yang di lalui penuh oleh hal-hal haram, seolah hal tersebut tak lagi diaggap sebagai sebuah kesalahan. Generasi yang tidak akan bergerak jika tidak dijanjikan mendapat sesuatu. Padahal jika kita kembali menilik pada sejarah masa lampau tak ada satupun pahlawan-pahlawan bangsa yang gugur mendapat balasan apapun, padahal perjuangan mereka sangat besar dan memang tak ada satupun yang bisa kita lakukan untuk membalas perjuangan mereka yang digelari sebagai pahlawan bangsa ini. Mereka tau persis dengan perjuangan yang begitu besar mereka tidak akan mendapat balasan apa-apa. Lantas mengapa mereka mau berjuang? bukankah sekarang kita menjadikan pengorbanan mereka sia-sia? hal inilah yang memupuk perbedaan diantara kita. Hal ini jugalah yang menjadikan kita sebagai bangsa yang manja dan tidak bisa menghargai orang lain. kalau bukan kita siapa lagi yang akan mengurus Negara yang katanya kaya raya ini?. Seandainya bangsa ini terus melahirkan generasi-generasi miskin, yang keropos mental dan kesadarannya bisa dibayangkan seperti apa kesudahan Negara yang konon katanya sebagai tanah surga ini. Sudah seharusnya kita menghilangkan sikap ke-kamian. Indonesia ini bukan milik siapa-siapa tapi Indonesia ini ialah milik kita bersama. Tergantung kita memodifikasinya seperti apa.

Islam menjadi pembicaraan yang hangat jika dikaitkan dengan Indonesia , karena Indonesialah satu-satunya Negara yang penduduknya terbanyak beragama Islam di dunia. Tetapi pada kenyataannya syaria’at Islam hanya dijadikan sebagai tradisi dan simbol belaka. Hingga tak ada lagi perilaku masyarakat yang bisa membuktikan bahwa Islam adalah agama yang damai . Betapa banyak bermunculan perilaku hidup yang sangat hedonisme (hura-hura) dikalangan bangsa ini, perilaku yang siap saji, memperlancar politik pintu terbuka bagi orang-orang yang ingin mengeruk kekayaan Negri ini. Seolah-olah tak ada hambatan yang berarti karna memang sebagian besar penduduknya bersifat individualisme dan tak mementingkan apa-apa selain uang.

Kehadiran pesantren dan dampaknyapun tidak diperhitungkan sama sekali. Pemikiran masyarakat mengenai dunia pesantren masih sangat tabu. Masih banyak masyarakat menganggap pesantren sebagai sekolah tradisional yang tidak dapat mengubah infrastruktur negri ini. Mereka beranggapan bahwa lika-liku pesantren hanya mempelajari hal-hal yang berbau klasik yang tidak sesuai lagi dengan tuntutan zaman. Fa’ala-fa’alaa-fa’alu inilah agaknya yang melatar belakangi pesantren dianggap sebagai lembaga kuno yang tak mengerti permasalahan modren. Inilah ironi mayarakat instan yang hanya memandang sesuatu dari sudut pandang yang mereka inginkan, tanpa tahu apakah penilaian mereka benar ataupun salah. Paham primordialisme yang menjalar keseluruh tubuh lembaga pendidikan membuat satu sama lainnya enggan untuk bersatu. Sehingga pendidikan Indonesia masih di kotak-kotakkan. Moral dan akhlak menjadi kajian yang kesekian bahkan sama sekali tidak diperhatikan.

Sekarang sudah saatnya kita menilai lebih jauh. Peran santri sangat diperlukan untuk membangunkan generasi bangsa yang tertidur. seperti yang dikatakan oleh Missionaris Talky, ”generasi islam sedang tertidur. Tetapi kita harus membuat perhitungan bahwa setiap yang tidur itu akan kembali bangun” . Barat sudah mewanti-wanti generasi islam agar tidak pernah bangun, itulah sebabnya banyak program yang gencar-gencarnya meninabobokan umat Islam. Salah satunya dengan mendirikan sekolah-sekolah sekuler yang berdaya saing . kualitas lembaga pendidikan tidak dapat diukur jika hanya memperhatikan kuantitas yang diberikan . keberhasilan sebuah lembaga maupun Negara tergantung seperti apa moral dan kepribadian orang-orang yang terhimpun di dalamnya.

“marilah kita menjadi bagian dari sepuluh pemuda yang dibutuhkan Soekarno untuk mengguncang dunia. tentunya pemuda yang berakhlak, bermoral dan yang pantas menjadi gambaran dari seluruh bangsa yang sempat tertidur ini”. (Nurul)