MA’HAD ALY SOLUSI PENGKADERAN ULAMA

IMG-20170415-WA0001

Oleh : H. Ilham, Lc., MA

 

PENDAHULUAN

 

Sumatera Barat dahulu subur dengan kelahiran para Ulama, beberapa  Ulama Nasional dan bahkan internasional pernah lahir dari daerah Minangkabau ini, diantaranya: Syekh Ahmad Khatib Al Minangkabawi, Syekh Ibrahim Musa, Syekh Sulaiman Arrasuli, Agus Salim, Hamka, M. Natsir, dan lain-lain. Akan tetapi sejalannya waktu, kini hal tersebut sulit didapatkan lagi, sehingga beberapa forum diskusipun dilaksanakan baik oleh jajaran pemerintahan daerah, kementrian agama wilayah, yayayasan-yayasan, dan Pondok Pesantren, sehingga keluarkan istilah “ kembali mambangkik batang tarandam “ ( kembali menghidupkan sesuatu yang sudah hilang ). Dalam hal ini pembahasan lebih difokuskan kepada pengkaderan “ anak nagari “ yang akan diorbitkan menjadi seorang Alim Ulama. Beberapa kali terobosan dilakukan, akan tetapi semua belumlah mencapai hasil maksimal sebagaimana yang diharapkan oleh mayoritas masyarakat Sumatera Barat secara khususnya.

Cita-cita tersebut sampai sekarang masih tersimpan rapi dengan harapan mudah-mudahan dikemudian hari ada solusi terbaik dalam memecahkan kebuntuan pengaderan ulama ini, sampai akhirnya dikeluarkannya SK 13 Ma’had ‘Aly Indonesia, dengan Ma’had ‘Aly Sumatera Thawalib Parabek salah satunya dan sekaigus sebagai bentuk terwakilkannya Pondok Pesantren di Sumatera Barat.

 

MA’HAD ALY HADIR DI PESANTREN

 

Pondok Pesantren di tanah air merupakan satu-satunya lembaga pendidikan yang mengelola pendidikan tingkat dasar dan menengah dengan acuan nilai-nilai kegamaan secara menyeluruh, lengkap teori serta prakteknya, muhadharah dan mudzakaranya, serta ilmu yang didapatkanpun selaras dan sejalan dengan keinginan masyarakat. Diantara syarat yang wajib dipenuhi oleh masing-masing pesantren adalah Kitab Kuning yaitu kitab yang menjadi dasar dan sekaligus pegangan dalam pengembangan makna-makna yang terkandung dalam Al Quran dan Sunnah Annabawiyyah.

Selama ini Pesantren telah berbuat sesuai dengan khittahnya sampai akhirnya ditemukan kejumudan tentang apa dan siapa yang akan melanjutkan pendidikan yang selama ini diajarkan di Pondok Pesantren.

Ma’had Aly sebagai Lembaga Tinggi berbasis kitab kuning inilah yang akan melanjutkan tradisi pembelajaran pesantren selama ini, sehingga pembelajaran yang tadi berlangsung 6 sampai 7 tahun dapat dilanjutkan sampai 10-11 tahun, sesuai dengan waktu rata-rata para Ulama besar dahulu belajar dimasa tersebut.

Ma’had Aly ini akan menjadikan Mahasantrinya terbiasa untuk mengkaji kitab dan bukan lagi mengaji Kitab, mengkaji hal-hal yang dianggap penting bagi umat dan tidak lagi hanya sekedar mengajinya tanpap memberikan konstribusi pasti.

 

MA’HAD ALY SESUAI HARAPAN

Tradisi yang selama ini tumbuh dalam Pondok Pesantren akan tetap terwarisi dengan adanya Ma’had ‘Aly ini, walaupun selama ini yang dirasakan jenjang pendidikan tinggi biasanya tidak lagi mampu mengeksplore tradisi-tradisi kepesantrenan. Maka disini Ma’had ‘Aly lahir dalam rangka itu, membangkitkan semangat juang Pondok Pesantren dalam pengkaderan Ulamanya sampai jenjang setara perguruan tinggi. Maka dalam hal ini Ma’had Aly harus berusaha mampu mengkombinasikan antara kebaikan tradisi yang selama ini ada di Pondok Pesantren dengan pengelolaan pendidikan terbaik kekinian yang tidak memudarkan tradisi baik Pondok Pesantren “ Al Muhafazhatu Bil Qadiimi Ash Shalih, Wal Akhdzu Bil Jaidil Ashlah “.

Maka cukup berat memang tantangan Ma’had ‘Aly untuk meyakinkan public akan nilai sebuah kualitas, akan tetapi bukan berarti tidak bisa, karena memang selama ini Pondok Pesantren telah memberikan bukti dan bukan janji. Sehingga masing-masing Ma’had Aly memang dibutuhkan untuk memberbaiki kualitas ini, dimana kualitas yang baik tersebutlah sebenarnya bahagian dari tanggng jawab ilmiyah yang ada pada Ma’had ‘Aly.

Sebagaimana Tri Darma Perguruan Tinggi, maka Ma’had ‘Aly juga memiliki Tri Darma Ma’had Aly yang diterjemahkan sesuai dengan kebutuhan Ma’had Aly tersebut:

  1. Pendidikan

Ma’had Aly berfungsi sebagai produsen kader ulama, gunanya untuk menjawab

problematika sosial Kemanusiaan dan tantangan zaman

 

  1. Penelitian

Melalui pendalaman kitab kuning, ma’had aly akan berfungsi sebagai produsen pengetahuan ilmu keagamaan yang juga sekaligus berguna untuk menjawab problematika social umat dan tantangan zaman

 

  1. Pengabdian Masyarakat

Ma’had Aly berfungsi untuk mengubah kehidupan masyarakat kearah yang lebih baik, agar terciptanya kehidpan masyarakat yang mandiri, berkeadilan, dan penuh dengan kemashalahatan

 

Dari hal ini maka bisa difahami bahwa Ma’had ‘Aly itu paradigm keilmuannya adalah inegrasi antara ilmu, amal, dan kemashlatan umat.

 

Dengan hal tersebut maka Ma’had Aly membutuhkan beberapa hal mendasar, diantaranya:

  1. Sarana prasarana yang memadai

Sebuah Ma’had Aly yang dirancang menciptakan para kader ulama mustahil  mencapai targetnya jika kebutuhan sarana prasarananya tidak memadai dan bahkan mungkin saja tidak ada. Hal ini bisa dilihat dari kebutuhan Ma’had Aly itu sendiri, dari keberadaan kitab-kitab kuningnya, ruangan pembelajaran, asrama, ruang dosen, Mesjid, perpustakaan, dll.

Semua hal ini harus dimiliki oleh Ma’had Aly untuk mengadakan dan memperlancar  kegiatannya.

 

  1. Tenaga Pengajar ( Dosen ), dan Mahasantri

Ma’had Aly haruslah memiliki mahasantri yang linier dengan latar belakang keilmuan yang telah diperoleh, kemampuan baca kitab, kepribadian dan cara berpakaianpun semisal para santri. Begitu pula dengan tenaga pengajar adalah para Buya yang berlatar belakang Pondok Pesantren, yang mengabdikan selama ini ilmunya untuk para santri, memiliki kecakapan, berwawasan luas serta dikenal ditengah-tengah masyarakat.

 

  1. Kematangan Akademik

Hal ini ditandai dengan adanya kurikulum yang jelas, tersusun dengan rapi dan ada kesinambungan antara bahasan pertama dengan bahasan berikutnya, mematangkan antara system SKS dengan mengkhatamkan Kitab adalah ciri khas dari sebuah Ma’had Aly yang professional pengelolaannya.

 

  1. Manajemen dan Administrasi yang tertib dan Akuntabel

Ma’had Aly dalam pengelolaannya harus rapi dan tertib, adanya system informasi yang tepat guna, dibutuhkan tenaga khusus dalam pengelolaan administrasi surat menyurat, daftar hadir, keuangan dan lain-lain dengan tidak menggabungkannya dengan administrasi yang selama ini telah berjalan di Pondok .

 

Dalam meningkatkan 4 ( empat ) hal kebutuhan wajib Ma’had Aly tersebut, maka dibutuhkan training-training, workshop secara bertahap dan berkesinambungan dalam rangka menjaga kualitas dan kuantitas pengelolaan Ma’had Aly.

 

Kompetensi Mahasantri

 

Dari kebutuhan Ma’had Aly diatas jika semua terpenuhi dengan baik, tentunya kompetensi kelulusan setiap mahasantrinya akan mudah untuk diperoleh, diantara yang sangat diharapkan perwujudannya adalah mahasantari yang:

 

  1. Mampu menerapkan kajian Fiqih dan Ushul Fiqih sesuai dengan prosedur dan prinsip-prinsip dalam ajaran Islam;
  2. Mampu berdakwah dengan baik di tengah masyarakat dengan kemampuan Qawaid Ushuliyyah Lughawiyyah yang mendalam
  3. Mampu membaca dan memahami bahasa Arab klasik ( Fusha Turats )
  4. Mampu memelihara ijazah dan sanad keilmuan
  5. Dll

 

Sehingga tergambarlah  profil lulusan Ma’had Aly (Ulama hukum Islam, Tuanku Imam, Qadhi, Peneliti, Pendidik ) yang  memang punya kekhashan dibandingkan dengan lulusan-lulusan Pergguruan Tinggi lainnya.

 

Wallahu A’lam