HIJRAH DARI JAHILIYAH KE ISLAMIYAH

Sejarah perjalanan hidup Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ adalah sejarah perjuangan dakwah membumikan Islam sebagai agama paripurna rahmatan lil ‘alamin. Dalam perjalanan panjang yang melelahkan itu beliau selalu bergumul dengan hambatan dan rintangan. Mulai membangun pondasi tauhid di Mekkah mengajak umat mengesakan Allah SWT sebagai ilah yang satu-satunya disembah, menghapus paham paganisme yang menjadikan selainNya sebagai tuhan yang diagungkan.

Setelah pondasi itu selesai dibangun di atas tanah Mekkah mulailah nabi menegakkan bangunan Islam. Namun gangguan dan rintangan tak pernah surut sampai titik klimak dimana beliau serta kaum muslimin Mekkah harus terusir keluar meninggalkan Mekkah. Dan Yastrib atau Madinah sebagai pilihan untuk hijrah.

Di Madinah beliau dan para sahabat mendapat sambutan hangat dari suku-suku besar seperti ‘Auz dan Khazraj yang mana kedua suku besar ini dulunya sering bertikai dan berseteru. Nabi datang memberikan harapan baru untuk hidup berdampingan diikat dengan tali ukhuwah iman.

Sewaktu di Mekkah orang-orang biasa melakukan hal-hal yang menyimpang, seperti minum khmar, berjudi atau mengundi nasib, membunuh anak perempuan mereka hidup-hidup, berperang antar suku dan puncaknya menyembah benda-benda berbentuk patung sebagai tuhan mereka. Kehidupan saat itu sungguh sangat hedonis. Orang-orang terpandang berhak memperbudak masyarakat kecil. Perbedaan kulit, suku, dan strata ekonomi menjadi tolak ukur kemuliaan sesorang. Namun setelah Islam datang, kebiasaan yang mendarah daging di kalangan masyarakat Mekkah waktu itu berangsur-angsur hilang.

Setelah umat Islam Mekkah hijrah ke Madinah. Kehidupan baru ditata. Sistim sosial masyarakat diatur menjadi piagam yang harus dijalani bersama dengan penuh komitmen. Orang-orang tidak lagi terkotak-kotak berdasarkan status sosialnya. Sisi melihat kemuliaan sesorang hanya berdasarkan iman, ihsan dan ketaqwaan kepada Allah SWT.

Hijrah Rasulullah SWT tidak hanya bermakna kepindahan fisik umat Islam dari Mekkah ke Madinah, tapi bermakna semangat perubahan. Perubahan dari sistem hidup jahiliah menjadi hidup yang lebih manusiawi.

Semangat hijrah adalah semangat penyebaran Islam dan perjuangan kaum muslimin. Semangat ingin melakukan perubahan menuju tatanan hidup yang lebih baik. Agar hidup menjadi lebih bermakna. Walaupun untuk itu harus mengorbankan kesenangan-kesenangan duniawi seperti kehilangan harta benda dan keluarga. Karena hijrah adalah upaya untuk mendapat kesenangan yang jauh lebih bermakna dari pada itu, yaitu mendapatkan kasih sayang Allah dan RasulNya di dunia dan di akhirat. Itulah mengapa peristiwa hijrah menjadi momentum spesial yang sangat monumental bagi kaum muslimin sehingga ia dijadikan patokan awal tahun yang kita kenal dengan 1 Muharram sebagai tahun baru Islam.

Berawal dari semangat umat Islam yang ingin menjadikan Islam sebagai way of life. Suatu saat Abu Musa al-Asy’ari sebagai salah seorang gubernur menulis surat kepada amirul mukminin Umar bin Khaththab yang menyoalkan surat-surat negara yang tidak ada tahunnya, hanya tanggal dan bulannya saja, sehingga membingungkan. Mendapat masukan tersebut Khalifah Umar bin Khaththab menggelar syura (musyawarah) dan mengumpulkan para sahabat senior seperti Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Abdurrahman bin ‘Auf, Sa’ad bin Abi Waqqash, Zubair bin ‘Awwam dan Thalhah bin ‘Ubaidillah. Dalam musyawarah tersebut muncullah beberapa usulan dimulainya tahun Islam. Ada yang mengusulkan dimulai dari tahun kelahiran nabi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Ada yang mengusulkan berdasarkan tahun pengangkat Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ sebagai nabi dan rasul. Dan ada pulan yang mengusulkan berdasarkan hijrah Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ. Salah satu yang mengusulkan ide yang terakhirnya ini adalah Ali bin Abi Thalib yang disepakati oleh Khalifah Umar bin Khaththab. Maka ditetapkanlah tahun pertama dalam kalender umat Islam adalah pada masa hijrahnya Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ.

Hijrah secara bahasa adalah ‘Tarku’ berarti meninggalkan. Hijrah ila syai’ bermakna ‘Intiqal ilaihi ‘an ghairihi (berpindah kepada sesuatu dari sesuatu). Secara istilah hijrah berarti ‘Tarku ma nahallahu ‘anhu (Meninggalkan apa yang dilarang Allah SWT). Sabda Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ “Muhajir (orang yang berhijrah) adalah orang yang meninggalkan segala larangan Allah SWT”. (HR. Bukhari).

Dalam kehidupan modern saat ini, hijrah secara maknawi terus relevan sampai kapanpun. Semangat hijrah harus kita aplikasikan dalam hidup. Semangat berhijrah dari jahiliyah menuju islamiyah. Hijrah dari kekufuran menuju iman. Hijrah dari kesyirikan menuju tauhid. Hijrah dari kebathilan menuju al-haq. Hijrah dari kemunafikan menuju istqamah dan keikhlasan. Hijrah dari maksiat menuju taat. Dan hijrah dari yang haram menuju yang halal.

Parabek, 7 Muharram 1439/27 September 2017

Ustad Muklis S.Sos.I

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*